3.12.08

MY SHORT NOVEL

SAAT SANG MAUT TAK MENGENAL KATA CINTA
Diangkat dari kisah nyata

bag 1. Trotoar Yang Tak Terawat
Siang hari ini kutelusuri jalan yang tampak seperti neraka jahanam, bersama sahabat baikku, Eric. Teriknya matahari siang itu tak ada yang dapat mengalahkan. Keringat pun mulai menetesi wajahku, setetes, dua tetes, hingga tampak seperti air terjun. Huuaah, panas sekali. Penderitaanku belum selesai, tenggorokanku mulai kering kerontang, ditambah lagi asap-asap kendaraan terhisap mulutku membuatku terbatuk. Ingin rasanya kuteguk sedikit air dingin, hemhh, pasti segar sekali. Kulirik temanku hanya diam, mungkin ia juga merasakan hal yang sama denganku. Kuraba saku, mungkin ada sedikit uang untuk kubelikan segelas aqua yang mungkin mampu mengurangi bebanku. Namun kuteringat, tadi aku dipalak oleh sekelompok preman biadab di sekolahku. Akhirnya kutetap menyusuri trotoar yang mungkin tak pernah dirawat oleh pemerintah, karena keadaannya yang sangat buruk. Walau tubuhku lelah, kutetap mencari ide untuk mendapatkan minum.Ditengah perjalanan kulewati sebuah komplek perumahan yang taka sing lagi bagiku. Dan aku mendapat sebuah ide yang sangat jenius. “Ric, kerumah Asha yok! Haus kan lo? Numpang minum n ngadem bentar aja!” tawarku, kulihat raut mukanya menampakkan sebersit kebahagiaan, karena minum adalah hal yang ia impikan saat ini. “asha yang lo suka? Wah boleh juga tuh! Ayo ayo!” jawabnya dengan semangat ’45. hahaha, tertawaku dalam hati karena aku akan bertemu pujaan hatiku. “Asha! Asha!” kupanggil asha dari luar gerbang rumahnya yang nampak begitu asri dan indah. Lalu pintu terbuka dan nampak bidadari yang turun dari surga, kurasa memang ditujukan Tuhan untukku,hahaha. Asha terlihat baru selesai mandi karena ia sibuk mengeringkan rambutnya yang panjang tergerai. “ada apa Do? Ko tumben kesini? Ayo masuk.” Sapanya ramah. “Cuma pengen mampir, udah lama nggak kerumah lo.” Bohongku. Akhirnya kumasuki ruang tamunya yang ber-AC, dan kududuk di sofanya yang begitu nyaman, tentunya setelah ia mempersilahkanku untuk duduk. Setelah mengobrol-ngobrol, pembantunya datang membawakan minum. Wah ini dia yang kutunggu-tunggu! Segarnya minum, plus sejuknya ruangan, nyamannya sofa, dan wajah sang putri yang cantik jelita, membuatku berasa berada di langit ketujuh pada saat itu. Pandanganku tak pernah lepas dari mata Asha, disana aku mendapatkan kesejukan yang lebih dan kedamaian yang abadi. Jam tanganku menunjukan pukul 16.11, aku pun memutuskan untuk pulang karena takut terlalu larut. “Sha, gua pulang dulu yaa. Udah sore nih. Gua masih mau main ke rumah Eric” Pamitku kepadanya. “ohh, oke! Jangan bosen-bosen maen ke rumah gua yaa!” balasnya. “oke, pasti! thanks yaa Sha!” kataku. “iyaa makasih Sha!” timpal Eric. Kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah Eric dengan tenaga yang sudah terisi penuh, dan melanjutkan langkah demi langkah di tempat yang sama. Trotoar yang tak terawat dan selalu setia menemani hiruk-pikuknya kehidupan.
bag 2. Mengejar Cinta Saatku Dikejar Maut
“Akhirnya sampai juga! Huahh! Panas banget! Motor lo sih pake acara ke bengkel segala! Kita jadi jalan kaki n kepanasaankan!” Gerutu Eric sambil membanting tasnya kesudut kamar. “hahaha, kan besok uda selesai diservis. Bawel amat lu! Oiyaa ric, ada yang mau gua omongin nih! Bantuin gua cari solusi dong.” Balasku. “Paan? Ngomong aja kali.” Balasnya sambil merebahkan badannya yang lelah ke tempat tidur. Lalu kuutarakan niatku untuk menyatakan cintaku pada Asha, karena aku merasa sudah saatnya untuk menjadikannya pengisi bagian dari puzzle hatiku yang selama ini terus kucari. Dan semoga saja Ashalah bagian dari puzzle yang hilang itu. Reaksi Eric sangat menggembirakan, ia mendukungku 100%. Kami menyusun rencana dan barang-barang yang akan kuberikan ke Asha saat penembakan. Dan diputuskan bahwa besok adalah hari yang tepat untuk menyatakan cintaku. Setelah lama mengobrol dan menyusun rencana, Eric menemaniku pergi ke mal di dekat rumahnya untuk membeli barang-barang yang akan kuberikan pada Asha saat penembakan besok.Besoknya, sepulang sekolah aku pergi ke bengkel sebentar untuk mengambil motorku yang sudah langganan diservis Karena sering mengalami tabrakan. Semua ini karena ulah hobiku yang sering ikut-ikutan balapan liar. Namun anehnya, aku selalu menang dalam setiap balapan, walaupun motorku sering menabrak. Hahaha, mungkin karena bakat dari lahir. Setelah mengambil motorku yang sudah tampak gagah kembali, aku menuju rumah Eric. Aku ingin meminta dukungan dan doa restu dari sahabat terbaikku sejak berumur 10 tahun. Ia adalah temanku satu-satunya saatku berada di rehab. Semua orang, termasuk teman-teman terdekatku pergi menghilang. Namun, eric tetap setia memberikan dukungan moral dan membangkitkan kepercayaan diriku tuk menghadapi realita kehidupan yang semakin berat tuk kuhadapi.“Ric, gua berangkat nembak Asha yaa! Doain supaya gua diterima! Inget doain! Hahahaha.” Kataku padanya. “hahaha, pasti sob! Lo pasti gua doain! Semoga lo diterima. Amin.” Jawabnya. “Amin! Gua pergi dulu yaa Ric!” balasku sambil menstarter motorku dan pergi keluar dari halaman rumahnya. “oiyaa Do, apapun jawabannya, lo kasih tau gua! Inget, kasih tau gua! Janji?!” teriaknya padaku. Aku hanya mengacungkan jempol dengan makud berjanji untuk memberi kabar pada Eric tentang hasil penembakkanku. Aku pun pergi menuju rumah sang tambatan hatiku, Veronica Asha Stefanie.Sesampaiku dirumah Asha, aku menyiapkan bunga dan boneka yang sudah kusiapkan untuknya, dan sedikit bercermin di kaca spion, agar terlihat ganteng. Hahaha, Lalu kupanggil Asha, dan tak lama kemudian ia keluar. Sungguh membuatku terpana melihat penampilannya saat itu. Iya menggunakan long dress cream pink, dan rambutnya tergerai. Aku sempat terdiam selama beberapa saat, sampai akhirnya Asha menyadarkanku. “Dodo? Ada apa kesini? Ko pake bawa boneka sama bunga? Buat siapa tu? Buat gua yaa? Haha.” Sapanya sambil tersenyum. Senyumnya membuatku terbang hingga ke planet mars. hahaha. “lho ko cantik banget Sha? Mau kemana nih?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya. “ini Do, jam 6 gua mau pergi ke resepsi pernikahan anaknya temennya ayahku. Haha, gua emang selalu cantik kali!” jawabnya. Lalu kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 16.47, berarti masih ada waktu 1 jam lebih. “Sha, ada yang mau gua omongin.” ucapku dengan gugup. Keringat dingin pun mengucur deras hingga membanjiri wajahku. “Ngomong apa do? Ngomong aja.” Jawabnya dengan curiga. “Sebenernya, gua suka sama lo.” Kataku perlahan. “Apaan? Gua nggak denger.” Balasnya. “Sha, I love you with all my heart! I can’t sleep tight every night, because I always thinking about you. Will you fill my heart with your love and makes left of my live become useful?” ucapku, semua langsung kukeluarkan dari lubuk hatiku yang paling dalam. “Hah?! Lo nggak bercandakan Do?” jawabnya dengan terkejut sambil menengok kearah dalam rumahnya takut ada yang menguping pembicaraan kami. “Ngga Sha, aku sayang banget sama kamu. Please terima aku. Aku ngga bisa hidup tanpamu!” jawabku dengan mengubah model pembicaraan menjadi aku-kamu. Asha tampak berpikir sejenak, raut mukanya menampakkan ia sedang gugup, kaget, dan bingung, semua perasaan bercampur aduk menjadi satu. Lama Asha berpikir, akhirnya ia memberikan jawaban dengan anggukan kepala. “Hah? Maksudnya gimana? Kok Cuma ngangguk? Aku nggak ngerti” tanyaku memastikan jawabannya. “Iyaa Do, aku terima. Aku juga sayang kamu.” Jawabnya dengan malu-malu disertai senyumannya yang sedikit demi sedikit membius hatiku. Entah apa yang kurasakan saat ini. Perasaan bangga telah mampu memiliki sang bidadari yang ditujukan dari surga untukku. Kupeluk Asha dengan sepenuh hati. Kini ia telah menjadi putriku dan aku telah menjadi pangerannya. Kuberikan bunga mawar kesukaannya dan boneka tokoh favoritnya, Bart simpson.Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 17.52, pertanda Asha akan segera pergi dengan keluarganya. Dengan berat kuputuskan untuk segera pergi menuju rumah Eric. “Sha, aku pulang dulu yaa. Udah mau jam 6. tuh mama kamu uda siap-siap.” Pamitku sambil melihat mamanya yang sedang memakai sepatu hak tinggi. “Sore tante.” Kusapa mamanya. “Halo Do, sore juga.” Sapa mamanya lalu kembali masuk rumah karena ada barang yang ketinggalan. “Sha, aku pulang yaa, aku sayang kamu.” Pamitku sambil mengecup keningnya. “iyaa sayang, kamu hati-hati yaa di jalan. Jangan suka ngebut! Bahaya! Oke?” balasnya. “iyaaa sayang.” Balasku. Dengan langkah yang berat seakan tidak ingin pergi meninggalkannya kuberjalan kearah tempat kuparkir motor. “Daaah!” teriakku seraya pergi meninggalkannya. Dari jauh, sayup-sayup kudengar teriakkan Asha, “Dodo! Hati-hati yaa! Aku sayang kamu!”Walau dengan berat hati aku harus meninggalkan Asha, tetapi aku tetap senang, karena ia telah menjadi milikku. Kulewati setiap ruas jalan dengan hati yang berbunga-bunga. Senyum adalah hal yang tak pernah luput dari wajahku saat itu. Aku terus memikirkan Asha. Perasaan rindu yang teramat sangat terasa menggebu-gebu di tiap relung hatiku. Karena tidak ada yang menghalangi perjalananku, kupercepat laju motorku, hingga kuterasa seperti burung merpati yang terbang bebas. Kulewati tikungan demi tikungan bagaikan Valentino Rossi dengan motornya. Namun, sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti akan jatuh juga. Peribahasa itu terjadi padaku jam, menit, detik ini juga. Dengan sedikit tambahan, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh dan mati. Tanpa kusadari, datang angkot dari arah berlawanan yang sedang mengambil jalur yang sedang kulalui. Tragedi berdarah pun tak terelakan. Aku rem motor dengan mendadak, dan jalanan yang sedang licin pada saat itu membuat motorku tergelincir kearah kolong angkot itu. kuberteriak “Tidak!! Argghh!!” Dan….. dalam hitungan detik, aliran darah di tubuhku mengalir deras di seluruh bagian tubuhku. Kini kusudah tak bernyawa lagi. Dan kini kudapat terbang seperti burung merpati, dan kulihat tubuhku yang berlumuran darah telah dikerumuni orang-orang hinggaku tak dapat melihat tubuhku lagi. Dari jauh dapat kulihat Asha sedang tertidur di mobil, dan sedang bermimpi kuajak terbang menuju tempat yang ingin ia kunjungi, disana kuajak dia melihat indahnya taburan jutaan bintang diangkasa, dan melihat kokohnya menara yang menjulang tinggi meyangga langit biru diatasnya dan termasuk ke dalam 7 keajaiban dunia, Eiffel.Kini kuhanya berbentuk seperti asap yang terus terbang tak jelas arahnya. Aku tak tahu harus menyalahkan siapa, atau memang tak ada yang dapat disalahkan? Karena semua ini adalah takdir? Tapi kenapa harus aku? Orang yang baru saja mendapatkan bagian dari puzzle hatiku yang telah lama hilang. Kenapa?! Semua hanya diam seribu bahasa, bahkan Tuhan sekalipun. Kuhanya bisa meratapi kisah hidupku yang harus diisi dengan kejadian seperti ini pada halaman terakhir. Namun dari semua kesedihan yang menyelimutiku, hanya Asha yang ada dikesedihanku itu. Aku harus berpisah dengannya secepat ini. Hati yang sudah terlanjur kuberikan padanya, kini kandas bagai kapal Titanic yang tenggelam di lautan biru yang bisu. Sudahlah, aku harus kuat, seperti apa yang Eric bilang waktuku di rehab dulu, “Do! Lo harus sadar! Walopun lo lagi jatoh, lo mesti ngadepin semuanya! Lo harus mulai lihat kedepan! Supaya lo nggak jatoh kelubang yang sama! And satu yang mesti lo camkan dalam hati lo! Lo tu cowok!” itulah perkataan Eric yang selalu terngiang dipikiranku saatku sedang dalam keadaan down. Lalu kuarahkan pandanganku ke depan, dengan senyum yang kini tak dapat terlihat, kulanjutkan tugas terakhirku di dunia ini.
bag 3. Demi Sebuah Janji dan salam perpisahan
Jarum panjang terletak di angka 7, dan jarum pendek terletak diangka 7, sementara jarum detik terus bergerak riada henti dan bernyanyi, “Tok.. Tik.. Tok..” Eric terlihat duduk di teras rumahnya menunggu kedatang teman baiknya, Dodo. Yang telah berjanji untuk memberitahu Eric tentang hasil dari penembakkannya. 15 menit Eric menunggu, Dodo pun terlihat sedang memasuki halaman rumah Eric dengan mengendarai motornya. Lalu Eric pun berlari menghapirinya dan menyambutnya dengan hujan pertanyaan, “Lama amat?! Kok lo pucet banget? Gimana? Diterima nggak? Terimakan? Ditolak yaa?” Dodo hanya menjawab dengan singkat dan sikap yang sangat dingin, “Gua diterima.” Melihat temannya yang tampak aneh itu, Eric mengira bahwa Dodo sedang kehausan dan kelelahan. Tanpa pikir panjang Eric segera menuju ke dalam rumahnya untuk mengambil minum buat Dodo, sambil berteriak, “Do, tunggu bentar yaa! Lo duduk aja dulu. Gua mau ambil minum buat lo.” Dodo hanya menjawab dengan mengangguk. Did lam rumah Eric masih bertanya-tanya di dalam hatinya, “Kok Dodo aneh banget, Diterima bukannya seneng malah pucet banget. Mana ngomong seperlunya aja lagi. Ada apa sih? Apa dia masih nggak percaya kalo dia diterima sama orang yang paling dia incer? Aneh banget.” Setelah selesai Eric membuatkan minum, ia langsung mengantarkan minuman itu pada Dodo yang berada di teras rumahnya. Namun, sesampainya di teras rumah, ia tidak melihat sebatang hidung pun berada disitu, bahkan motornya Dodo pun tak ada. Ia langsung menaruh segelas minuman yang tadinya hendak ia berikan pada Dodo, dan segera mencari Dodo disekitar rumahnya. Saat ia hendak melangkah menuruni anak tangga di teras rumahnya, handphonenya berdering, ia segera menjawab telpon tanpa melihat siapa yang menelpon. “Halo, ini siapa?” Sapa Eric. “Ini.. Gua Dodi..” jawab Dodi. Ia adalah kakaknya Dodo. “ooh, lo Di. Kenapa? Ehh adek lo kemana nih? Tadi gua tinggal ambil minum, pas balik ko uda nggak ada! Jago banget ngumpetnya! Hahahaha.” ujar Eric. “Haah?! Nggak mungkin! Tadi sore jam 6, Dodo tabrakan n langsung meninggal….. Sekarang jasadnya lagi dimandiin… Lo dateng yaa Ric.” Sangkal Dodi sambil menahan tangis atas kesedihan ditinggal pergi adik laki-laki satu-satunya untuk selama-lamanya. “Haah?! Nggak mungkin! Dodo!” Teriak Eric.Perasaan Eric kini tak menentu. Kaget, sedih, takut, dan bingung. Ia tak dapat menyangka apa yang baru saja dialaminya, dan ia bingung harus melakukan apa. Otaknya tak mampu berpikir, tubuhnya tak mampu digerakkan, seakan ia sedang dihipnotis. Lalu Eric duduk mencoba untuk merilekskan tubuhnya yang syok dan mencerna apa yang telah terjadi. Dalam keadaan yang hening itu, Eric mendengar bisikan yang tidak jelas darimana arah datangnya, dan Eric merasa mengenal suara itu. Namun ia tak mampu berpikir suara siapa itu. “Ric, janji gua udah gua tepatin… Thanks ya Ric, lo uda jadi sahabat terbaik di hidup gua. Semoga kita tetep jadi sahabat selamanya. Gua titip pesen buat Asha. Bilang ke dia, gua minta maaf, karena harus ninggalin dia secepet ini. Ini semua udah takdir yang direncanain Tuhan buat gua. Walaupun gua udah beda alam, gua tetep sayang dia, gua tetep cinta dia sampai kapan pun. Ric, Tolong sampein yaa! Gua titipin Asha ke lo. Nah.. Sekarang gua bisa hidup tenang disini…..” Lama kelamaan suara misterius itu menghilang. Dan Eric pun tersadar, suara tadi adalah suara sahabatnya, Dodo.………………………….Arwahku sedikit demi sedikit menghilang disapu hembusan angin yang berhembus dengan lembut. “Asha… Aku sayang kamu.”

No comments: